Kisah-Kisah

Thursday, March 02, 2006

Sebenarnya Saya Siap Dipanggil, Saat Kecelakaan Itu


Inilah pengalaman batin peziarah Paroki St. Yusuf, Bintaran yang selamat dari kecelakaan di desa Suru, Ponorogo, 26 Oktober 2003
“Dalam doa, saya mendapatkan kedamaian, ketenangan dan kepasrahan. Doa dan pertobatan itulah yang saya yakini telah menyelamatkan nyawa saya dalam musibah itu. Seandainya belum bertobat, saya tidak tahu apa jadinya, “ kata Patricia Sumirah Pulung (52), yang tubuhnya masih berbaring lemah di salah satu bangsal RS Panti Rapih Yogyakarta.
“Sebelum tahun 1999 saya merupakan ‘Katolik KTP’ saja. Saya datang setiap minggu ke gereja, namun dalam kegiatan apapun tak pernah terlibat. Waktu saya habis untuk bekerja dan bekerja bagi anak-anak. Saya menyadari, tanpa bekerja keras, tak mungkin saya dan suami, Yohanes Pulung Sujani, mampu membiayai kuliah kedua anak kami. Dalam kekuatan doa dan keiklasan, saya bisa menerima musibah ini, termasuk harus kehilangan suami saya, Pulung Sujani”, aku nenek dari dua cucu ini lirih.
“Banyak orang mengatakan saya termasuk orang tabah. Bagi saya, itu semua bukan karena ketabahan, namun karena kepasrahan dan keikhlasanlah yang membuat diri saya bisa kuat. Saya berusaha tidak menangis, walau harus kehilangan suami. Saya berusaha menahan sakit saat kecelakaan, walaupun sebagian tubuh saya masih ada dalam bus, sementara kepala, tangan dan tubuh saya yang lain keluar dari bus dan masuk dalam tanah. Semua itu saya rasakan dalam diam dan terus berdoa sambil menanti giliran untuk ditolong.”
“Semenjak hidup bertobat dan berpasrah pada Tuhan, saya pantang untuk merintih-rintih, menangis atau apapun. Dalam godaan apapun, saya cenderung untuk diam dan berdoa, termasuk saat kecelakaan itu menimpa saya, “ ceritanya.
“Memang, selama perjalanan pulang sampai proses kecelakaan itu berlangsung, saya sadar sesadar-sadarnya. Saya sadar, kalau saya duduk di depan di dekat sopir. Di sebelah saya, bu Imam Santosa (Maria Magdalena Sri Sugati) yang menjadi korban kecelakaan dan meninggal, serta Pak Imam Santosa. Saat kecelakaan, bus itu hanya berjalan pelan karena menurun”.
“Karena kaget ada pot di pinggir jalan, bus banting setir ke kiri, namun akhirnya masuk ke jurang yang dalamnya hanya dua meter dan kemudian terguling”.
“Saya langsung berada di balik kursi sopir saat bus itu terperosok dan miring. Saya merasakan, ini kecelakaan kecil saja. Namun ternyata akibatnya fatal, “ kisahnya.
“Di mata saya, itu kecelakaan ringan. Saya sama sekali tak menduga kalau sampai menelan korban sebanyak lima orang peziarah. Saya tak merasakan kalau ternyata kaku dan tangan saya retak dan hampir patah, tujuh tulang rusuk patah serta tulang ekor retak.”
“Waktu itu, selama menunggu datangnya pertolongan, saya berterima kasih pada Tuhan telah menyelamatkan nyawa saya, juga mendoakan teman-teman agar selamat dari musibah ini. Sama sekali saya tak menduga kalau sampai menelan korban. Kecelakaannya sungguh ringan kok di mata saya, “ paparnya lagi.
Menangkal gosip
“Saya protes! Saya tidak terima bahwa kata orang-orang pintar tempat kecelakaan itu memang angker. Nyawa-nyawa yang melayang dikatakan sebagai tumbal dan kini masih ada tiga nyawa yang masih ditahan oleh sang penunggu yang berujud para warok,” dengan suara agak keras ia menyangkal berita-berita tidak benar yang beredar sehubungan dengan peristiwa itu.
“Memang ada berita seperti itu. Namun saya tak percaya, saya yakin suami saya langsung masuk ke surga. Dia orang yang sangat baik luar dan dalam. Memang kepergian suami saya sangat tidak saya duga. Mungkin anda bisa bertanya pada teman-teman yang berziarah, bahwa saat kecelakaan, Bapak malah ikut membantu mengeluarkan para korban dari bus, meski darahnya bercucuran di wajahnya. Saya melihat itu semua, karena saya masih sadar saat terjepit tubuh bus dengan tanah sambil menanti giliran untuk ditolong, “ katanya penuh keyakinan.
“Saya didatangi arwah bapak untuk minta pamit. Anak angkat kami, Untung yang tinggal di Jakarta serta karyawan tempat Bapak bekerja dulu juga diberitahu Bapak melalui telepon karena kebaikannya. Kepada mereka, almarhum Bapak memberi kabar agar disampaikan ke rumah untuk mengirimkan ambulans karena ia mengalami kecelakaan di Ponorogo. Kepada anak angkatnya, dia menelepon agar pulang sebab ibunya opname di rumah sakit. Padahal, saat telepon itu berdering, Bapak sudah meninggal dan siap dikuburkan di hari Senin sorenya”.
“Bapak menemui saya karena kebaikannya untuk minta pamit serta bentuk keikhlasannya untuk menghadap Tuhan. Persisnya dia datang usai didoakan dalam Misa di gereja pukul satu siang. Saat bapak datang, dia mengenakan baju putih serta berdasi dan berkaca mata, wajahnya tampak berseri-seri dan tersenyum. Saya pun bilang: “Pak silahkan kalau mau ikut Tuhan ! Cepatlah berangkat, saya sudah ikhlas. Silahkan ikut Bunda Maria, selamat jalan, pak!” Begitu saya mengucapkan itu, kemudian bayangan itu hilang. Dia pamit pada saya akan menghadap Tuhan di surga, “ ujarnya.
“Saya yakin, kecelakaan itu bukan hukuman atau peringatan. Selama ini saya sudah berbuat baik pada Tuhan dan sesama, meski bukan berarti saya tidak berdosa”
“Di mata saya, kecelakaan itu murni sebagai misteri Tuhan. Karena itulah, saya tidak pernah kapok untuk melakukan ziarah lagi, sekalipun kembali ke Sendang Waluya Jatiningsih Ponorogo yang telah mencelakai saya. Saya akan tetap melakukan kegiatan seperti semula. Saya sungguh ingin pergi berziarah lagi”.
“Kecelakaan itu adalah misteri Tuhan semata. Setelah saya renungkan, sebagai misteri Tuhan, saya diharapkan oleh Tuhan untuk lebih bertekun lagi dalam doa, melayani sesama dengan lebih baik lagi. Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk berbuat baik. Buktinya, saya tak meninggal dalam kecelakaan itu. Saya diselamatkan, karena saya masih diberi kesempatan untuk berkarya dalam nama Tuhan. Ini tantangan bagi saya dan akan saya jalankan”, jelas perempuan yang ketika diwawancarai ditemani anak angkatnya.
“Benar, dalam sikap pasrah dan ikhlas, dari kecelakaan ini, saya tak merasa kehilangan apa-apa. Namun saya hanya merasa kehilangan waktu, karena biasanya saya aktif untuk ikut banyak kesempatan, “ katanya datar.
“Kini saya mesti berjuang sendiri, tetapi saya tak akan pernah mengubah janji saya untuk hidup berserah pada Tuhan dengan terlibat sepenuh-penuhnya bagi kegiatan sosial dan Gereja. Justru dengan kepergian suami saya, saya merasakan waktu untuk mengabdi Tuhan semakin terbuka dan lebar”.
“Saya bersyukur masih diberi waktu untuk berbalas budai pada Tuhan. Saya ingat benar saat-saat saya memohon-mohon pada Tuhan agar nyawa saya tidak cepat-cepat dipanggil menghadap. Waktu itu, tepatnya di tahun 1980, saat anak-anak masih kecil, sementara saya harus menjalani operasi besar tumor ganas kandungan. Syukur, doa saya akhirnya dikabulkan, meski harus menjalani operasi tumor kandungan sebanyak empat kali”.
“Waktu itu saya benar-benar mohon pada Tuhan untuk tetap diberi hidup. Saya sangat kasihan pada kedua anak saya, kelak akan apa jadinya kalau saya meninggal. Kini setelah tugas saya selesai sebagai ibu dengan kedua anak saya sudah menikah dan dapat pekerjaan, saya sewaktu-waktu sudah siap dipanggil Tuhan. Termasuk dalam kecelakaan itu, saya sebenarnya siap dipanggil Tuhan. Namun ternyata Tuhan punya rencana sendiri terhadap saya. Namun yang penting, kapanpun nyawa ini dijemput, saya sudah siap”, dengan mantap Patricia berkata.
Barangkali Patricia Sumirah Pulung sudah punya “firasat” bahwa waktunya sudah dekat. Sabtu (8/11), ia menghembuskan nafas terakhirnya. Seperti dituturkan kepada Susana K. Yulianti. (Hidup, 30 November 2003)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home